Wakaf Quran
News Update :

Entri Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Anggota KPU : Pemilu 2009 Tanpa Stiker & Arak-Arakan

Rabu, Mei 28, 2008

Menyinggung soal verifikasi peserta pemilu 2009, Anggota KPU Pusat I gede Putu Artha memastikan PKS lolos dan berhak menjadi peserta pemilu 2009. ”Berdasarkan Undang Undang, PKS memang partai yang sudah pasti ikut Pemilu tanpa proses verifikasi,” katanya.

PK-Sejahtera Online: Hajatan lima tahunan bangsa Indonesia tidak akan seramai tahun 2004. Berdasarkan UU Pemilu yang belum lama disahkan itu melarang adanya alat peraga kampanye parpol berupa tempelan seperti stiker dan pamflet. Alat peraga yang diperbolehkan untuk kampanya yang berlangsung pada 18 Juli 2008 – 1 April 2009 hanya berupa spanduk, baliho, bendera dan umbul-umbul.

”Hal ini mengingat adanya kesepakatan untuk menciptakan suasana Pemilu 2009 agar berjalan tertib, lancar, damai serta tidak menimbulkan kekotoran,” papar Anggota KPU I Gede Putu Artha, Selasa(27/5).

Informasi tersebut dikatakan Putu pada acara sosialisasi UU Pemiu kepada fungsionaris PKS di Kantor DPP PKS Jl Mampang Prapatan Raya No. 98 D-E-F Jakarta.

Selain soal alat peraga, Putu juga menginformasikan pemutakhiran data, verifikasi parpol, tahapan pemilu, serta penghitungan perolehan suara. Menurutnya, KPU sudah mempelajari sengketa yang terjadi saat pilkada. Salah satunya adalah soal Daftar Pemilh Tetap (DPT).

Menurutnya, DPT pada pemilu 2009 boleh dimiliki oleh pengurus parpol, tidak seperti yang terjadi pada pilkada lalu. Namun demikian, lanjut Putu, daftar tersebut hanya boleh dimiliki oleh pengurus partai di tingkat Kabupaten/ Kota.

Untuk menghindari data yang tidak valid, seperti anggota TNI/ POLRI, orang yang sudah meninggal serta yang tidak berhak memilih namun masih ada dalam DPT, mantan anggota KPUD Bali itu menyarankan agar partai beserta masyarakat mendata dan melaporkannya ke BPS.

”Laporkan ke BPS, minta tanda terima dan laporkan ke Kecamatan atau Kelurahan,” sarannya.

Sementara itu, menyinggung soal verifikasi peserta pemilu 2009, I gede Putu Artha memastikan PKS lolos dan berhak menjadi peserta pemilu 2009.

”Berdasarkan Undang Undang, PKS memang partai yang sudah pasti ikut Pemilu tanpa proses verifikasi,” katanya.

Sang Murobbi, bukan hanya sekedar film

Sabtu, Mei 24, 2008

Pembaca budiman, mungkin sebagian kader dan simpatisan PKS sudah tahu bahwa sebentar lagi akan di launching sebuah film yang menurut saya akan sangat fenomenal, judul dari film itu adalah sang murobbi. Bagi yang belum tau beritanya, film ini di angkat dari kehidupan nyata sosok murobbi teladan yang pernah dilahirkan dari rahim ummat Islam Indonesia, sosok murobbi yang tentunya telah mampu memerankan status kemurobbiannya dengan sebaik-baiknya. Ialah Alm. Ust. Rahmad Abdullah-Semoga Allah SWT merahmati beliau.

Menghadirkan sosok beliau dalam layar kaca tentu bukan perkara yang mudah, diperlukan biaya yang tidak sedikit dan akan sangat sulit pemeran film menyamakan diri dengan sosok Ust. Rahmad yang sangat fenomenal, tentu pembuatan film ini bukan bermaksud dalam rangka mengkultuskan beliau. Manusia-manusia zaman sekarang perlu dihadirkan sosok-sosk teladan yang bisa menjadi cermin dan contoh yang baik sebab sahabat Umar Bin Khottob pernah berkata "ajarkanlah anak-anakmu sastra, maka anak yang pengecut akan jadi pemberani". Ummat ini perlu contoh, perlu panutan, perlu teladan dan perlu uswatun hasanah. Semakin banyak contoh maka semakin banyak cermin.

Bagi pecinta seni Islam, jenis film seperti ini menurut saya sangat langka, bahkan mungkin baru pertama kali di Indonesia karena kita biasa disugukan dengan kehadiran sosok teladan dalam layar kaca tetapi rentang waktu zaman kita dengan sosok teladan terlalu jauh (misal the messengger, wali songo, fatahilah, lion of the desert, dll) sehingga sulit membayangkan, menganalogikan dan terutama adalah meneladani karena memang berbeda ruang dan waktunya. Tetapi Ust. Rahmad hadir di tenggah-tengah kehidupan kita, beliau menyatu dengan kita, menghadapi tantangan zaman yang sama dengan zaman kita dan memimpin perjuangan ini ketika kita masih hidup.

Kalau karya-karya seniman kita sebelumnya telah melahirkan karya yang seperti ini (misal : bukan di negeri dongeng) yang mengisahkan kehidupan nyata dari keteladanan kader-kader PKS, tetapi itu masih terbatas pada bentuk novel dan cerpen, sehingga yang bisa menikmati hanya orang yang hobi membaca saja sedangkan yang alergi dengan buku maka tidak akan selera membacaranya apalagi membeli bukunya. Tentu akan sangat lain ketika cerita-cerita itu divisualisasikan dalam layar kaca, Ayat-ayat Cinya misalnya, yang ternyata banyak orang-orang lebih dahulu melihat filmnya dari pada membaca novelnya.

Bagi masyarakat mulyorejo, selamat menunggu launching filmnya, semoga film ini bisa menginspirasi kita untuk menjadi sosok burobbi teladan, bukan hanya untuk mutarobbi kita tetapi lebih dari itu, kita bisa menjadi sosok murobbi teladan bagi diri kita, keluarga kita, teman-teman kita, para tetangga kita dan tentunya bagi bangsa dan negara ini, Amien.

Trailer dari film sang murobbi bisa dilihat di http://www.iqro.or.id/

Info Kegiatan : Senam PKS

Kamis, Mei 08, 2008

Untuk semua kader, simpatisan dan masyarakat Mulyorejo
Ikutilah Senam PKS
Tiap hari ahad pagi jam 5.30 WIB
CP : 031-60361332

FACE OFF

Ini bukan berita tentang face off Siti Nur Jazila yang di operasi wajahnya karena disiram air panas oleh suaminya, tetapi bagi masyarakat Mulyorejo berita ini tentu saja lebih heboh karena yang mau 'ganti wajah' adalah sekretariat DPC PKS Mulyorejo.

Setelah disewa oleh DPC sejak bulan januari lalu, rumah yang beralamat di jalan Mulyorejo nomor 182 ini sudah dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan. Face Off dilakukan tentu saja untuk menunjukkan bahwa ini adalah sekretariat DPC dan juga diharapkan dapat menambah semangat para kader dalam rangka memberikan pelayanan yang terbaik buat masyarakat muyorejo. Operasi ini dilakukan dalam beberapa tahap, berikut info selengkapnya . . .


Sebelum Face Off

Beginilah Penampakan Sekretariat DPC PKS Mulyorejo sebelum dilakukan operasi Fase Off , bisa dilihat kondisi rumah masih dalam warna asli.

Face Off Tahap I
Operasi Face Off tahap I telah dilakukan bulan maret oleh team dokter yang terdiri dari para tukang cat amatiran, dari gambar bisa dilihat perubahannya yang cukup signifakan, catnya sudah PKS 'bangeeet' dengan brand hitam-kuning-putih sebagai warna utama.


Face Off Tahap II

Operasi Face Off tahap II dilakukan awal bulan mei, dalam operasi ini perubahan yang cukup signifikan dilakukan oleh team dokter adalah di depan sekretariat ditambahi atap atau payon (dalam bahasa jawa). payon ini dimaksudkan agar halaman depan DPC bisa dimaksimalkan untuk berbagai kegiatan, biar ngak kepanasan dan kehujanan.

Demikian sekilas info tentang renovasi sekretariat DPC PKS Mulyorejo, harapannya semoga semua kader, simpatisan dan masyarakat mulyorejo bisa memanfatkan sekretariat ini dengan sebaik-baiknya, bagi para donatur kami ucapkan Jazakumullah khoir, semoga amal ibadah ini bisa jadi pemberat amal kebaikan kelak di yaumil akhir. (nantikan info face off tahap selanjutnya ^_^)

Dinamika Sosial Budaya PKS

oleh : Sapto Waluyo
Direktur Eksekutif Center
for Indonesian Reform

Banyak pengamat mencermati kebangkitan Partai Keadilan Sejahtera sebagai bukti kemampuan partai politik (parpol) Islam untuk mengemas isu-isu publik, semisal antikorupsi dan pelayanan sosial.

Padahal, selama ini parpol Islam dan partai berbasis agama pada umumnya, terpenjara isu-isu religius dan ideologis. Kemenangan PKS bersama mitra koalisinya dalam pemilihan kepala daerah terkini di Jawa Barat (PAN) dan di Sumatera Utara (PPP dan PBB) menunjukkan partai Islam bisa menandingi partai nasionalis dan menangkal pragmatisme dalam derajat tertentu.

Analisis pengamat lebih terfokus pada efektivitas mesin politik atau popularitas kandidat.Belum ada yang secara serius menelaah faktor sosial-budaya. Kebangkitan PKS didukung lahirnya generasi baru di era transisi (1998–2008). Generasi ini telah mematahkan ambisi para elite status quo.

Kita bisa menyebutnya generasi AAC (Ayat-ayat Cinta)—meminjam fenomena budaya terkini, sebuah novel karya Habiburrahman El Shirazi yang terjual 450.000 kopi dan filmnya ditonton hampir 4 juta orang. Generasi ini dicirikan sifat kosmopolitan,semisal Fahri, yang kuliah di Universitas Al-Azhar (Mesir) dan bergaul dengan kawan berbeda latar: Kristen Koptik (Maria), modern Turki (Aisha), tradisional Arab (Naora), selain akrab dengan gadis Indonesia (Nurul).

Terlepas dari alur cerita AAC yang melankolis, hingga Presiden SBY menitikkan air mata ketika menontonnya, kisah Fahri adalah sublimasi dari pengalaman nyata ribuan kaum muda Indonesia yang kuliah/bekerja di mancanegara.Apa hubungannya dengan PKS? Pertama,pendiri PKS adalah kaum muda yang menikmati berkah pendidikan di era Orde Baru, sebagian di antara mereka alumni mancanegara.

Berbeda dengan tesis Sadanand Dhume (Yale Global Online, 1 Desember 2005) yang menyebut PKS sebagai ancaman nasional, lebih berbahaya lewat suara (ballot) ketimbang senjata (bullet).Dhume yang mantan wartawan Far Eastern Economic Review itu berkesimpulan PKS adalah partai radikal karena kadernya kebanyakan alumni Timur Tengah. Itu konklusi menggelikan karena sebagian besar pimpinan PKS bukan alumni Timur Tengah.
Ada yang lulusan perguruan tinggi di Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat. Presiden pertama PK, Nur Mahmudi Ismail adalah alumni Universitas Texas. Presiden kedua,Hidayat Nur Wahid,memang alumni Universitas Madinah. Presiden pertama PKS yang jarang disebut orang, Muzammil Yusuf, produk asli Universitas Indonesia, walau sempat kursus bahasa Inggris di Australia dan kursus bahasa Arab di Mesir.

Presiden ketiga PKS, Tifatul Sembiring, yang menggantikan Hidayat, tercatat sebagai alumni Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Trisakti. Dengan formasi seperti itu,terbantahkan pandangan yang menyebut PKS ”partai fundamentalis”lantaran pimpinannya lulusan Timur Tengah, seperti simpulan Walter Lohman (The Heritage Foundation, 28 April 2008) yang mengikuti logika dangkal Dhume.

Simpulan lebih masuk akal adalah kecenderungan kosmopolitanisme PKS amat kuat karena tergolong generasi yang terpapar informasi global. Saat ini, sebagian kader PKS menyebar di berbagai negara Eropa, selain ada yang kuliah di Australia, Singapura,dan Taiwan. Fakta kedua, penulis novel AAC Habiburrahman eEl -Shirazy termasuk lingkungan dekat PKS.

Kang Abik yang menjadi guru di pesantren di Jawa Tengah itu mengakui kedekatannya dengan komunitas tarbiyah amat berperan dalam proses kreatifnya. Habib tercatat sebagai anggota Forum Lingkar Pena (FLP), asosiasi penulis muda yang beranggotakan 2.000 penulis tersebar di 125 kota. Menurut Taufik Ismail, ”FLP adalah laboratorium penulis muda terbesar dalam sejarah sastra Indonesia.” Tentu saja FLP tak berhubungan secara organisasional dengan PKS karena sifatnya nonpartisan.

Namun,publik mengetahui kader dan simpatisan PKS sangat aktif membentuk lembaga sosial dan asosiasi profesional di berbagai bidang. Perluasan pengaruh lembaga itu pada gilirannya menentukan pembesaran politik PKS. Perlu dicermati secara khusus kreativitas budaya yang dipelopori PKS seperti terwakili dalam acara milad yang diikuti 150.000 simpatisannya.

Dalam atraksi panggung tampil grup nasyid Izzatul Islam, Ruhul Jadid, Shoutul Harakah, dan Ebiet Beat A Nasyid adalah grup acapella yang direvitalisasi komunitas PKS sejak 1980-an. Berbeda dengan kekuatan politik lain yang tak peduli perkembangan seni-budaya, apalagi gerakan politik Islam modernis yang disalahpahami suka menentang tradisi,maka PKS mengemas substansi budaya Islam dengan unik. Kreativitas mereka lebih dahsyat dibandingkan capaian politik yang diraih dalam pemilu.

Pada 1980, awal kemunculan ”nasyidpergerakan”denganteks Arab yang diadopsi dari Mesir dan Palestina. Nasyid seperti ”Ghuraba” (Kelompok Asing) disenandungkan mahasiswa LIPIA, kampus bahasa Arab yang disponsori Kedubes Arab Saudi.Anis Matta (Sekjen PKS) dan Ulil Abshar Abdalla (pendiri Jaringan Islam Liberal) termasuk alumni perguruan yang dituding pengamat asing sebagai penyebar ideologi Wahabisme.

Sepuluh tahun kemudian, nasyid marak berwarna ”populer” seperti kelompok Snada (Jakarta) dan Suara Persaudaraan (Malang). Begitu ngetopnya Snada hingga diundang DPP PDIP saat meresmikan Baitul Muslimin. Di samping kelompok domestik tumbuh subur, grup nasyid Raihan asal Malaysia juga berebut pasar Indonesia. Penggemar nasyid semakin luas kemudian membuka pasar baru bagi kemunculan lagu rohani.

Sulis dan Haddad Alwi dengan salawat Nabi serta Opick dengan pop religius. Pascareformasi, tampil ”nasyid cadas” dipelopori Izzatul Islam (Depok). Tema lagunya seputar perjuangan warga di daerah konflik Maluku,Poso, dan Aceh. Gelombang nasyid cadas yang mengentak-entak dengan suara perkusi dilengkapi Ruhul Jadid (Depok) dan Shoutul Harakah (Bandung).

Karakter PKS mengkristal dan mencapai kulminasi dalam Pemilu 2004. Sejak itu perkembangan nasyid bergulir cepat, sehingga muncul genre alternatif. Ada nasyid parodi (Gondes Semarang) yang mengadopsi teknik Project P.Nasyid ”klangenan” seperti Justice Voice (Yogyakarta) dan nasyid rap berbahasa Sunda (Ebiet Beat A dari Bandung).

Nasyid rap-Sunda ini dari sudut pandang sosial-budaya turut mengangkat popularitas pasangan gubernur dan wakil gubernur terpilih Jawa Barat, Ahmad Heryawan-Dede Yusuf. Komunitas PKS telah menembus sekat budaya yang selama ini mengerangkeng partai Islam atau partai berbasis agama. PKS menjadi contoh, betapa partai politik dapat membangun basis sosial baru dan menawarkan wawasan budaya alternatif. (*)