Wakaf Quran
News Update :

Kritis atau Sinis ?

Minggu, Juni 02, 2013

By Naufal Ibnu Amzani


Dalam kehidupan siapapun pasti pernah “terjatuh” ke dalam sebuah masalah, entah itu dimaknai sebagai sebuah ujian ataupun musibah. Hal itu wajar saja terjadi sebagai sebuah proses perkembangan dan pendewasaan diri seseorang. Karena proses pendewasaan itu selalu hadir seiringan dengan masalah, pembelajaran dimulai dari bagaimana sikap dalam menghadapi masalah tersebut.

Apalagi jika kita berbicara tentang sebuah jamaah dengan cita-cita besar bernama jamaah Tarbiyah, yang hari ini sedang mengalami “ujian”nya dalam proses transformasi dan perkembangan dirinya dari sebuah “jamaah” menjadi kekuatan yang sanggup memimpin dan menata ulang kembali “taman” bernama Indonesia.

Dalam proses menghadapi masalah tersebut, tentunya banyak keputusan-keputusan yang diambil agar masalah tersebut dapat diselesaikan secara efektif. Dan tradisi pengambilan keputusan dalam jamaah ini selalu menggunakan system syuro’ atau musyawarah. Setiap pendapat dari masing-masing kepala dikeluarkan lalu dihimpun dan dicari mana pendapat terbaik yang mampu mengatasi masalah dengan efektif dan memiliki resiko terkecil. Namun dalam prosesnya, pasti akan tetap ada orang-orang yang merasa tidak sepakat dengan keputusan syuro’ tersebut, dan akhirnya mencoba untuk memberikan pendapat dan menawarkan pendapat tersebut ke pemegang keputusan dengan berasumsi bahwa pendapatnya itu benar.

Disinilah kadang masalah baru terjadi, ketika ada orang yang merasa tidak sepakat keputusan jamaah, kemudian mencoba bersikap “kritis”, namun dalam aplikasinya menjadi berlebihan hingga menimbulkan sikap “sinis”. Padahal keduanya adalah hal yang berbeda. Jika merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, kritis adalah “bersifat tidak lekas percaya, bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan dan kekeliruan, tajam di penganalisisan”. Sedangkan sinis adalah “bersifat mengejek atau memandang rendah, tidak melihat suatu kebaikan apapun dan meragukan sifat baik yang ada pada sesuatu”

Dalam menyikapi keputusan jamaah tersebut, disinlah kadang perbedaan dua hal tersebut menjadi kabur. Ketika merasa tidak sepakat kepada keputusan jamaah, banyak orang yang menjadi “kritis” padahal sejatinya dia “sinis”. Dan hal ini terkait dari sejauh mana dia memahami persoalan tersebut, dan seberapa luasnya sudut pandang yang diambil dalam memahami masalah.
Mulai lumrah kritikan-kritikan pedas yang tak jarang menurut saya malah tampak sebagai sebuah hinaan atau caci-maki, dengan alasan “ini kritik kami terhadap jamaah karena kami cinta jamaah ini”, “kita ingin jamaah ini kembali sesuai dengan asholah dakwah” dan semacamnya, tanpa mempunyai analisis dan data yang kuat serta keengganan untuk mengklarifikasi lebih lanjut kepada jamaah ketika “bermasalah”. Apalagi disaat jamaah ini mulai menapaki fase mihwar daulah dimana tantangan-tantangan baru dan perubahan zaman menuntut keputusan-keputusan yang kadang sama sekali berbeda dengan fase-fase terdahulu. Sehingga yang keluar menjadi sebuah pendapat justru sebuah kesinisan yang berbentuk sebuah caci maki.

Saya rasa semua orang pernah kecewa, terlebih lagi kepada “jamaah manusia” yang bernama Tarbiyah ini, baik secara personal kadernya maupun kepada keputusan jamaah. Dan itu adalah hal yang wajar terjadi. Namun yang menjadi permasalahan adalah, bagaimana cara kita mengatasi kekecewaan tersebut? Disinilah titik yang akan membedakan sikap “kritis” dengan “sinis”.
Menurut saya, kritik yang dibentuk oleh sikap kritis adalah kritik yang dikeluarkan dengan analisis dan data yang kuat dengan memahami persoalan secara menyeluruh, paham medan “masalah” yang sedang dilalui, memahami dampak ke depannya baik dari kritiknya maupun solusi yang dia tawarkan, dan kritik yang dikeluarkan itu membangun bukan menjatuhkan.

Sedangkan sikap sinis adalah kritik yang dilandasi sikap benci atau kecewa, mengabaikan analisis dan data, dan sikap yang dikeluarkan terkesan “asal kritik ga peduli dampak yang akan terjadi” dan pada akhirnya hanya akan menjatuhkan. Bahkan tak jarang sikap sinis tersebut keluar hanya dengan bermodal “katanya” tanpa mau mengklarifikasi dan menganalisis dengan lebih mendalam. Sikap ini muncul dikarenakan adanya “asumsi sebelum analisis”. Padahal obyektifitas sebenarnya bisa muncul ketika kita mampu mengambil sikap “analisis mendahului asumsi”. Terlebih lagi ketika kita tidak “kritis” juga terhadap media.:)
   
Maka sikap-sikap sebenarnya bisa dipecahkan dengan beberapa hal. Pertama, penguatan poin arkanul bai’ah pertama yaitu al-fahmu. Ini berkaitan dengan tradisi intelektual di internal jamaah itu sendiri. Jika kita belajar pada kemenangan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Tarbiyah hampir 90 tahun hingga meraih kemenangan itu ga berkutat hanya pada aktivitas politik, namun juga aktivitas ilmu. Alhasil Ikhwan berhasil menelurkan ulama-ulama yang diakui dunia semacam Yusuf Qardhawi, Sayyid Hawwa, Muhammad Al Ghazali, dan masih banyak lagi. Hal ini yang saya pandang perlu dibenahi di jamaah tarbiyah di Indonesia ini. Masih sedikit karya-karya yang dihasilkan (atau hanya sedikit yang tahu) terutama fiqih-fiqih yang berkaitan dengan kondisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Ini juga berkaitan dengan seberapa banyak buku yang kita baca, dan seberapa banyak sudut pandang yang bisa kita gunakan. Dengan menyuburkan kembali tradisi keilmuan harapannya kader bisa menguatkan kembali poin al fahmu itu sendiri, sebab jamaah yang tidak membiasakan tradisi intelektual pada akhirnya hanya melahirkan kader yang taklid dan fanatik buta, dan pada akhirnya akan hancur atau “terpencil” karena tidak mampu menjawab tantangan zaman. Karena bagi saya pribadi, al fahmu itu ga cuma hanya mengerti dalil, tapi juga mengerti konteks dalil, dimana, kapan dalil itu bisa diterapkan, serta mampu menganalisis dan merencanakan secara jangka panjang.
   
Kedua, ini terkait dengan model komunikasi dalam memahami keputusan jamaah. Mungkin banyak kader yang kadang tidak mengerti mengapa jamaah mengambil suatu keputusan. Dan ketika ada “serangan” datang, kader bingung untuk menjawab apa. Dengan adanya komunikasi yang jelas, dan rasionalisasi sebuah keputusan yang logis, hal ini juga akan mempersempit kemungkinan kader untuk kecewa. Saya melihat hal ini mulai diperbaiki ketika pemilukada Jakarta ketika qiyadah memberikan penjelasan atau rasionalisasi ketika mengapa memilih mendukung Foke dibanding Jokowi. Ditambah dengan hadirnya web resmi yang aktif seperti PKSPiyungan, membuat akhirnya kader sendiri mampu belajar menganalisis mana berita yang benar mana yang salah. Pola komunikasi yang hanya mengandalkan ketaatan dan ke-tsiqah-an saja tapi mengabaikan al fahmu hanya akan mematikan kemampuan berpikir dan menganalisis kader yang pada akhirnya akan berimbas buruk juga bagi jamaah tarbiyah ini.
   
Ketiga, berani untuk mendengar kritik. Saya yakin jamaah ini bukan anti kritik. Tapi kita juga bisa memilah mana kritik yang membangun mana kritik yang cuma melampiaskan kekecewaan belaka. Saya pernah diceritakan oleh senior, salah satu kelebihan dari presiden kita ustadz Anis Matta, kritik yang ditujukan kepada jamaah ini selalu dipelajari oleh beliau, yang akhirnya digunakan untuk memperbaiki hal-hal yang kurang dalam jamaah ini (tapi ini saya gatau bener atau ngga hehe :p).
   
Maka mulailah rajin untuk menganalisis segala hal dan segala kondisi secara menyeluruh, sehingga yang keluar dari pendapat kita bukan fanatik membela secara membabi buta ataupun sebaliknya, membenci secara berlebihan, yang pada akhirnya membuat sesuatu yang kita sebut “kritis” menjadi “sinis” belaka. Lagi-lagi saya mengutip sedikit pendapat kang @hafidz_ary : komparasikan saja, pilah-pilih, mana yang logis dan rasional.
   
Terakhir, saya mau mengutip pendapat salah seorang senior “kalau antum gampang kecewa sama jamaah, justru harusnya jamaah yang kecewa karena punya kader gampang kecewa kayak antum!”, dan juga mengutip pendapat salah seorang ustadz “kalo antum mau keluar jamaah, emang yakin jamaah lain ga ada masalah? ga punya salah?”. Kita yakin jamaah ini sesuai namanya “Tarbiyah” adalah jamaah yang senantiasa belajar, karena cita-cita kita begitu besar, Ustadziyatul ‘Alam menuntut kita untuk terus menerus belajar dan memperbaiki diri. 
Sekian :)


*penulis: @nauval_12 on twitter
Share this Article on :

0 comments: